Gelombang demonstrasi memperingati 100 hari Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono berlangsung hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Puluhan mahasiswa di Purwokerto dari berbagai elemen memilih berjalan kaki dari halaman Kampus Universitas Jenderal Soedirman di Jalan HR Bunyamin menuju Alun-alun Pemerintah Kabupaten Banyumas. Massa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (Ampera) tersebut terdiri dari elemen Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Purwokerto.
Saat puluhan ribu massa diperkirakan menjadikan rumah dinasnya sebagai lokasi unjuk rasa, Presiden meresmikan PLTU Labuan di Pandeglang, Banten, (Kamis, 28/1). Tanda lari dari tanggungjawab? …… silahkan jawab sendiri-sendiri ?“Di satu sisi menghindari demo akbar dan kedua mau tunjukkan bahwa kritik yang saat ini dilancarkan tak relevan karena dia sedang meresmikan pembangunan,” ujar salah seorang anggota Petisi 28, Haris Rusli kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Kamis, 28/1).
Haris mengakui bahwa SBY memiliki prestasi terbesar dalam meresmikan proyek-proyek pembangunan dan pencitraan politik.
“Tapi program tak berjalan. Akhirnya tak ada proyek yang jalan. Karena sibuk melakukan pencitraan,” katanya.
Peresmian PLTU di Banten hari ini pun dianggapnya sebagai bagian dari pencitraan.
Di Jakarta Ada sekitar 64 elemen masyarakat yang total berjumlah 70 ribu akan turun ke jalan pada hari ini demi menggelar unjuk rasa yang bertepatan dengan 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Aksi ini sudah dimulai semenjak pukul 8 tadi pagi dan ada 3 titik yang menjadi pusat demo besar yakni Istana Presiden, KPK, dan Gedung DPR.
Dalam unjuk rasa besar-besaran ini, mereka mengusung 5 isu yakni kegagalan Presiden SBY melindungi kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional. Dan ketidak-mampuan Yudhoyono menegakkan negara hukum dan memberantas korupsi. Mereka juga menilai SBY gagal menyejahterakan dan melindungi petani, guru, nelayan, kaum miskin perkotaan, dan buruh migrant. Ia juga dianggap gagal mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyehatkan bangsa
Filed under: Uncategorized



